Review: Ketika Anies Baswedan Memimpin

Judul               : Ketika Anies Baswedan Memimpin
Penulis             : Muhammad Husnil
Penerbit           : Mahaka Publishing
Terbit               : Januari 2017
Tebal               : 272 halaman



Anies Baswedan merasa dirinya berkewajiban untuk mewujudkan janji kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karna itu ia tergerak membuat GIM atau Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini dirintisnya sewaktu ia masih menjabat sebagai rektor Universitas Paramadina. Anies mengundang seluruh pemuda Indonesia untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa dengan menjadi pengajar selama satu tahun di berbagai pelosok tanah air.


Sejak kecil Anies sudah memiliki jiwa penggerak. Ketika SD ia membuat sebuah kelompok yang diberi nama “kelabang” alias Kelompok Anak Berkembang. Kelompok ini beranggotakan teman-teman sekolah dan sepermainan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Kegiatan kelabang sendiri lebih kepada kegiatan olah raga. Markasnya berada di rumah Anies. Orangtuanya mendukung saja apa pun yang dilakukan Anies selama itu hal yang positif.


Jiwa kepemimpinannya terus berkembang. Sewaktu SMP ia sudah dipercaya sebagai ketua panitia penyelenggaraan acara tutup tahun SMP 5 Yogyakarta. Di bangku SMA ia terpilih menjadi ketua OSIS, sayangnya saat itu ia masih duduk di kelas satu SMA. Akhirnya jabatan ketua OSIS dialihkan ke kakak kelasnya. Meski begitu, Anies tidak kecewa. Ia yakin tahun depan ia akan bisa menjadi ketua OSIS. Benar saja, di tahun berikutnya ketika ia telah naik kelas dua SMA, ia berhasil mejadi ketua OSIS.


Saat di SMA pula Anies mengikuti jejak pamannya menjadi siswa pertukaran pelajar ke Amerika. Anies berhasil lolos seleksi program AFS (American Fields Service) dan ia akan menjalani masa belajar selama satu tahun di Amerika. Pulang ke Indonesia, Anies segera melanjutkan sekolah SMAnya hingga lulus. Kemudian Anies mendaftar kuliah di UGM.


Anies merupakan sosok penggerak dan inspirator bagi teman-temannya. Di dunia kampus ia aktif sebagai ketua senat dan kerap mengadakan aksi demontrasi menentang kebijakan pemerintah yang merugikan kampus. Bersama teman-temannya Anies terus menyuarakan pendapat dan pandangan mahasiswa terkait kebijakan kampus maupun negara. Dengan aksinya tersebut, tidak jarang Anies mendapat teror dari orang atau pun lembaga yang tidak menyukainya. Meski begitu, Anies tetap tegar dan terus bergerak.


Suami dari Fery ini kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah kembali di Amerika. Dengan beasiswa yang ia peroleh, Anies membawa istrinya, Fery, turut serta ke Amerika. Kehidupan Anies di Amerika tidaklah mudah, salah satu kesulitannya adalah ekonomi. Ia akan berusahasa keras menghemat uang beasiswanya, sekaligus tetap bekerja untuk menambah penghasilan. Pulang ke Indonesia, tidak sulit bagi Anies mendapatkan pekerjaan.


Namun, Anies memiliki tiga kriteria yang akan menentukan apakah ia akan menerima atau tidak sebuah pekerjaan. Ketiga kriteria tersebut, yaitu: menumbuhkan semangat intelektualitas, pekerjaannya tidak menghalanginya untuk bisa menunaikan kewajiban sebagai ayah dan suami, terkahir pekerjaannya harus memiliki efek sosial (hlm. 149). Apabila jenis pekerjaannya tidak sesuai dengan kriteria tersebut, Anies tidak akan menyia-nyiakan waktunya melakukan pekerjaan itu.

“Mendidik adalah kewajiban moral tiap orang terdidik” (hlm. 198)

Sifat Anies Baswedan yang patut ditiru dari paparan di buku ini adalah, sifat tenang dalam menghadapi persoalan dan berbicara dengan tenang dan santun. Sifat-sifat itu ia pelajari dari kakeknya, A.R Baswedan yang merupakan salah satu pejuang kemerdekaan. Tidak hanya kakeknya, Anies juga banyak belajar dari ayah dan ibunya, Rasyid dan Aliyah. Kedua orangtuanya sering mengajak Anies dalam setiap kegiatan mereka, mula dari mengajar hingga berpidato di depan orang banyak.


Perjalanan karir membawa Anies menjadi rektor di Universitas Paramadina. Ia menggagas program Paramadina Fellowship, yaitu program beasiswa bagi siswa yang tidak mampu tapi berprestasi. Setelah berkarir di Universitas Paramadina, Anies mengembangkan karirnya di dunia politik, hingga akhirnya terpilih menjadi salah satu menteri di jajaran pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. Meskipun masa jabatan menteri hanya dua tahun, Anies telah banyak melakukan perubahan dan gerakan-gerakan positif di kemendikbud.


Buku biografi Anies Baswedan ini cukup bagus sebagai cerminan seorang pemimpin yang menggerakkan dan menginspirasi untuk masyarakat. Adapun sedikit koreksi untuk buku ini yaitu gambar atau foto-foto yang ditampilkan akan lebih menarik jika berwarna, bukan hitam putih. Karena foto yang ditampilkan cenderung gelap dan tidak jelas.



Membaca buku biografi seorang tokoh tentunya akan menambah kedekatan dengan tokoh tersebut serta banyak hikmah dan pelajaran dari kisah hidupnya.



Suka dengan resensi ini? Berikut informasi tentang penulisnya
Nia Hanie Zen - Depok

Mba Nia juga bisa ditemui di
Twitter & instagram: @nia_hnie - nulisajayuk.blogspot.com - niahnie@gmail.com -

Komentar