Begini Cara Dewa Mengatasi Kebangkrutan



Judul                : Bidadari Untuk Dewa
Penulis             : Asma Nadia
Penerbit           : KMO Publishing
Tebal               : 528 halaman
Cetakan           : 1, 2017
Bisa dibeli di   : www.tokoasmanadia.com


Belajar bisnis tidak melulu dengan membaca buku-buku motivasi seputar bisnis, dari sebuah novel pun kita bisa mendapat ilmu bisnis. Gak percaya?


Novel terbaru Asma Nadia yang berjudul Bidadari Untuk Dewa merupakan novel tertebal yang pernah ia tulis. Selain tema keluarga yang menjadi ciri khas penulis produktif ini, Asma Nadia juga memasukkan tema bisnis menjadi tema utamanya. Diambil dari sebuah kisah nyata seorang pengusaha muda, Dewa Eka Prayoga, novel ini sangat inspiratif dan aplikatif dalam kehidupan kita.


Berkisah tentang Dewa yang sejak usia muda telah sukses dengan omset satu milyar, kemudian menikah dengan teman sekelasnya di bangku kuliah yang bernama Haura. Mereka menjalin kedekatan sejak Dewa masih merintis usaha bimbelnya. Haura menjadi partner kerja Dewa baik  untung maupun rugi.


Kedekatan mereka masih sebatas hubungan atasan dan karyawannya, walaupun keduanya memiliki perasaan yang sama, ingin bersatu dalam pernikahan. Keinginan mereka akhirnya terwujud. Dewa dan Haura menikah dengan menggelar acara sederhana meskipun pada waktu itu Dewa adalah sorang miliyarder.


Pernikahan mereka mendapat pertentangan dari ibu Dewa yang selama ini membesarkannya seorang diri. Ibu Dewa adalah wanita karir yang hidup dalam kisah-kisah mitologi Yunani. Apa pun yang ia dan anaknya lakukan akan disangkut-pautkan dengan dewa-dewa Yunani. Ibu Dewa tidak menyukai Haura, karena menganggap Haura adalah wanita pembawa sial yang hanya mengincar harta Dewa yang serupa dengan Apate atau Dewi Tipu Daya.


Dewa tidak memedulikan apa yang ibunya katakan. Ia yakin Haura adalah sosok yang tepat untuk mendampinginya. Sayangnya, kejadian yang menimpa Dewa dan Haura di hari ke-18 pernikahan mereka seolah manjadi bukti bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Dewa tertimpa musibah yang bertubi-tubi. Mulai dari utang yang mencapai 7,8 miliyar, usaha yang bangkrut, ancaman para investor yang datang hampir setiap hari layaknya Deimos, Dewa Pembawa Teror dan Ketakutan.


Dewa dan Haura menghadapi semua ujian dengan sabar, usaha dan doa hingga sedikit demi sedikit mereka berhasil mencicil utang yang hampir 8 miliyar kepada para investor korban penipuan, yang sesungguhnya bukan akibat kesalahan Dewa. Segala usaha telah ia coba, mulai dari berbisnis Ceker Iblis hingga menjual harta yang tersisa untuk melunasi utang. Tapi semua itu masih sangat jauh dari angka utangnya yang miliyaran rupiah, hingga akhirnya Dewa menemukan tongkat Musa alias keahliannya yang lain yang ternyata dapat menghasilkan uang lebih banyak, yaitu menulis. Ya, akhirnya Dewa pun menulis sebuah buku yang berisi pengalamannya selama bangkrut. Buku itu laris dan membuat Dewa dan Haura bangkit setahap demi setahap hingga mereka kuat berdiri.


“Hidup tidak menawarkan kemudahan bagi para pejuang..” (hlm. 97)


Novel ini tidak hanya berisi kisah jatuh bangunnya bisnis seorang Dewa Eka Prayoga, melainkan berkisah tentang kehidupan keluarganya yang kurang harmonis antara ibu dan istrinya. Meskipun tidak disukai oleh mertuanya, Haura tetap bersikap baik dan terus berusaha mengambil hati ibu mertuanya. Haura tipikal wanita solihah yang taat pada suami juga tegar menghadapi ujian ibu mertuanya.


Dalam membangun bisnisnya, Dewa tidak hanya dibantu oleh sang istri, melainkan dua orang sahabat yang selalu siap menolong di saat Dewa jatuh dan berhasil bangkit. Mirza dan Rizal dua orang sahabat Dewa yang sejak masa kuliah telah menjadi tempatnya berdiskusi. Mirza dan Rizal juga sebenarnya merupakan korban dari investasi bodong yang dikenalkan Dewa. Mereka sama-sama mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Tapi mereka berdua memilih membantu Dewa bangkit membangun bisnisnya hingga akhirnya berhasil.


Banyak ilmu yang bisa dipetik dari novel Bidadari Untuk Dewa; ilmu membangun usaha, bangkit dari kebangkrutan, ilmu membangun rumah tangga, menjalin persahabatan dan ilmu ikhlas menerima takdir yang telah Allah tetapkan. Bagaimana cara Dewa bangkit dari keterpurukan dan bagaimana tegarnya Haura dalam menghadapi ibu mertua yang selalu bertentangan dengannya, dapat ditemukan dalan novel setebal 500 halaman lebih ini.



Kekurangan novel ini menurut saya ada pada sampulnya. Disain sampulnya menurut saya kurang menarik. Tapi sepertinya slogan “Jangan menilai buku dari covernya” bisa dibenarkan. Karena memang kisah dalam novel ini lebih menarik daripada apa yang terlihat di luar.



Suka dengan resensi ini? Berikut informasi tentang penulisnya
Nia Hanie Zen - Depok

Mba Nia juga bisa ditemui di
Twitter & instagram: @nia_hnie - nulisajayuk.blogspot.com - niahnie@gmail.com -

Komentar