Sejarah: Antara Luka dan Bahagia



Judul                           : Gara-Gara Indonesia
Penulis                        : Agung Pribadi
Penerbit                      : Asma Nadia Publishing House
Tebal                           : 202 halaman
Cetakan                       : VI, 2017


Sejarah? Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata itu? Membosankan. Mungkin saja banyak yang berpikiran seperti itu, termasuk saya. Buku sejarah mungkin menjadi salah satu jenis buku yang dihindari. Pasalnya kebanyakan buku sejarah itu tampil dengan fisik yang tidak menarik. Mungkin saja sampul bukunya tidak enak dipandang, jenis huruf yang kurang bersahabat dengan mata, tata letak isi buku kurang atraktif atau mungkin bahasa yang digunakan sangat ketinggalan jaman.


Tapi tahukah kalian, ada buku sejarah yang jauh dari hal-hal yang membosankan di atas? Ya, saya menemukannya. Buku dengan tema sejarah yang pastinya memperluas wawasan, ditulis dengan gaya bahasa ringan nan inspiraif, disain tata letak yang menarik itu berjudul “Gara-Gara Indonesia” karya Agung Pribadi, seorang menekuni bidang sejarah.


Membaca buku GGI membuat saya semakin tahu dan kagum pada negara saya ini. Banyak fakta menarik tentang Indonesia yang cukup membanggakan. Salah satunya yakni Indonesia merupakan salah satu dari sedikit negara yang meraih kemerdekaan dengan perjuangan sendiri, perang berkali-kali, bertahun-tahun hingga berabad. Sedangkan kebanyakan negara lain yang terjajah, tidak mendapatkan kemerdekaannya dengan perjuangan sendiri, melainkan ada yang merdeka karena dihadiahkan oleh negara yang menjajah, banyak juga negara yang mendapatkan kemerdekaan setelah lepas dari negara induk, ada pula yang merdeka karena negara induk mereka terpecah.


Buku GGI tidak hanya menampilkan sejarah Indonesia yang membanggakan, tapi juga menyajikan kisah sejarah yang membuat kecewa. Seperti dalam fakta-fakta berikut ini:

1. Indonesia merupakan sumber herba untuk berbagai tanaman kesehatan dan kosmetik. Akan tetapi hak paten atas tanaman tersebut saat ini dimiliki oleh bangsa asing.

2. Indonesia adalah penghasil cokelat terbesar nomor tiga di dunia, tapi negara yang dikenal sebagai penghasil cokelat berkualitas di dunia adalah Swiss atau Belgia. Sekalipun negara Eropa tersebut tidak ada perkebunan cokelat.

3. Indonesia adalah penghasil karet dan sawit tertinggi di dunia, tetapi harganya ditentukan bursa komoditi di Belanda yang tidak punya tanaman tersebut.

4. Dan masih banyak lagi.


Kesimpulannya, sejarah mencatat sebuah negara menjadi besar bukan karna kekayaan alamnya, melainkan bangsa yang mampu mengolah kekayaan alamlah yang menjadi bangsa besar.

Lupakan hal-hal yang mengecewakan di atas. Dalam buku ini juga tercatat kehebatan Indonesia dalam sejarah silam. Indonesia adalah negara yang lebih demokratis dibanding negara lain yang berkoar-koar tentang demokrasi. Pemuda Indonesia dahulu adalah pemuda yang hebat-hebat. Di usia 20 hingga 30 sudah cukup matang sehingga bisa menjadi pelopor gerakan atau organisasi penting yang menjadi tonggak kebangkitan bangsa. Sepak bola Indonesia lebih hebat daripada Belanda, bahkan Belanda sempat takut saat bertanding melawan Indonesia.


Belajar sejarah atau membaca sejarah jangan membuat kita menjadi terpuruk dengan masa lalu. Sebaliknya, mengetahui sejarah masa lalu hendaknya menjadi pemacu atau penyemangat bagi generasi penerus untuk berbuat lebih baik, bertindak lebih bijaksana dan tanggung jawab demi tercipta sejarah yang baik yang akan menjadi kebanggan bagi penerus di masa datang. Jangan sekali-kali melupakan sejarah!


 Suka dengan resensi ini? Berikut informasi tentang penulisnya
Nia Hanie Zen - Depok

Mba Nia juga bisa ditemui di
Twitter & instagram: @nia_hnie - nulisajayuk.blogspot.com - niahnie@gmail.com - 

Komentar

  1. Mungkin untuk melengkapi buku di atas perlu juga membaca Buku karya Anif Punto Utomo yang berjudul Negara Kuli. Di sana ada informasi, Indonesia termasuk negara yang paling banyak mengirimkan tenaga kerjanya ke luar negeri. Indonesia termasuk negara yang banyak membeli barang-barang bekas dan seterusnya.

    Informasi-informasi sejenis ini sebenarnya bagus sebagai motivasi untuk merubah keadaan. Paling tidak generasi muda harus punya tekad untuk merubah hal-hal yang 'kurang baik' ini.

    BalasHapus
  2. Wah Terimakasih saran bukunya Pak

    BalasHapus

Posting Komentar